BRIN dorong diplomasi sains timbal balik, peneliti Indonesia ikut mencipta pengetahuan
Arif Satria menyampaikan arah kerja sama riset Indonesia di STS Forum Kyoto: jejaring terbuka, kapasitas nasional dan peran negara berkembang sebagai mitra pencipta.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mendorong penguatan kemampuan sains Indonesia sekaligus kerja sama internasional dalam STS Forum di Kyoto, Jepang. Laporan media Indonesia pada 7 Oktober 2026 memuat pandangannya tentang posisi peneliti dan negara berkembang dalam jejaring ilmu pengetahuan global.
Kapasitas nasional dan jejaring global
Menurut detikNews, Arif menempatkan penguasaan sains dan teknologi sebagai bagian dari pembangunan, daya saing, serta ketahanan Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa kemampuan dalam negeri perlu tumbuh bersama hubungan riset lintas negara, karena pengetahuan, talenta, data dan infrastruktur penelitian saling terhubung.
Dalam pandangannya, kerja sama menjadi semakin rumit ketika keamanan riset dan persaingan teknologi bertemu ketegangan geopolitik. Karena itu, Indonesia perlu mempertahankan hubungan ilmiah yang membangun kepercayaan sambil memperhatikan kepentingan nasional.
Peneliti sebagai mitra pencipta
VOI melaporkan pertemuan tahunan ke-23 STS Forum berlangsung pada 4–6 Oktober. Dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi pada 6 Oktober, Arif mendorong negara berkembang ikut menciptakan pengetahuan dan teknologi, melampaui peran sebagai pemasok data, lokasi penelitian atau penerima teknologi.
Arah yang ia sampaikan mencakup kemitraan bilateral dan regional, konsorsium penelitian, penggunaan infrastruktur bersama, serta mobilitas peneliti. Ia menekankan hubungan yang inklusif dan timbal balik.
Relevansi bagi komunitas riset Indonesia
Bagi pembaca kampus dan lembaga riset Indonesia, pernyataan ini menjelaskan arah yang dibawa BRIN dalam forum internasional. Kedua laporan bersumber pada keterangan tertulis Arif; keduanya bukan konfirmasi independen atas hasil suatu proyek. Artikel ini membahas sikap kebijakan yang disampaikan, tanpa menganggapnya sebagai pengumuman hibah, kesepakatan proyek atau kesempatan pendaftaran baru.