Dari Surabaya, batik mencari generasi penerus lewat keterampilan dan inovasi
Pembahasan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya menempatkan regenerasi perajin, pendidikan proses dan teknologi sebagai jalan menjaga batik tetap relevan.

Regenerasi perajin dan pemanfaatan teknologi menjadi dua perhatian dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya. Dalam keterangan yang diterbitkan pada Minggu, 4 Oktober, Kementerian Perindustrian menekankan bahwa desain dan pemasaran digital dapat membantu batik menjangkau generasi baru tanpa menghilangkan pengetahuan tradisional yang mendasarinya.
Keterangan itu merangkum pembahasan Community Engagement di Surabaya pada 1 Oktober. Dengan demikian, tanggal publikasi 4 Oktober bukan tanggal baru untuk forum tersebut. Isunya tetap relevan setelah rangkaian pameran: bagaimana batik hadir dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mempertahankan keterampilan yang membuatnya berbeda dari sekadar kain bermotif.
Digital sebagai alat, bukan pengganti kerja tangan
Dalam penjelasan Kemenperin, teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan desain, memperkenalkan produk dan memperluas pasar. Rumah Batik Jawa Timur, yang disebut menjalankan usaha batik tulis lintas tiga generasi, menempatkan eksplorasi digital sebagai pendukung proses tersebut, bukan pengganti proses utama membatik.
Pengembangan produk juga diarahkan pada pakaian siap pakai, aksesori dan kebutuhan gaya hidup. Kemenperin mengangkat contoh Ulur Wiji, yang memadukan material alami, teknik kriya tradisional dan rancangan kontemporer. Menurut keterangan pendirinya dalam publikasi itu, perempuan muda di komunitas perdesaan turut dilibatkan dalam pengembangan keterampilan kriya.
Menjaga proses di balik motif
Pesan ini berkaitan dengan perhatian yang disampaikan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat membuka pameran pada 30 September. Dalam keterangan resmi yang terpisah, ia menyoroti pentingnya menumbuhkan minat generasi penerus terhadap batik, termasuk peluang menjadi pembatik.
Kemenperin juga meminta masyarakat memahami perbedaan antara batik yang melalui proses tradisional dan kain bermotif batik yang dibuat dengan teknik cetak. Pembeda yang dibahas tidak hanya tampilan motif, tetapi juga cara pembuatan, keterampilan tangan dan nilai budaya. Karena itu, pendidikan tentang batik perlu berjalan bersama pengembangan produk modern.
Kolaborasi perajin dengan desainer dan akademisi menjadi salah satu pendekatan yang disebut kementerian untuk memperluas pilihan produk. Tujuannya adalah menghadirkan karya yang sesuai kebutuhan konsumen sambil tetap membawa identitas batik. Keterangan tersebut merupakan arah pengembangan, bukan hasil evaluasi bahwa semua program telah berhasil.
Ruang publik mempertemukan batik dengan anak muda
Kompas.com melaporkan dari pembukaan pameran di Atrium Tunjungan Plaza 3 pada 30 September. Rangkaian yang dijadwalkan sampai 4 Oktober itu melibatkan lebih dari 40 peserta dan menghadirkan pameran, peragaan busana serta kegiatan percakapan dan kreativitas. Batik Tulungagung termasuk yang mendapat perhatian untuk memperkenalkan kekayaan Jawa Timur.
Dalam liputan tersebut, Yayasan Batik Indonesia menjelaskan keinginan membawa batik lebih dekat ke masyarakat melalui ruang publik, fesyen dan teknologi. Fokus pada anak muda tidak berhenti pada kewajiban mengenakan batik, tetapi pada pengalaman yang membuat mereka ingin mengenal karya dan prosesnya.
Sesudah peringatan, tantangannya adalah kesinambungan
Dari paparan tersebut, pelestarian dan inovasi tidak perlu berjalan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Menawarkan bentuk produk baru dapat membuka pintu bagi pengguna baru, sementara pengenalan proses memberi alasan untuk menghargai pekerjaan perajin.
Bagi pembaca, pertanyaan sederhana saat berkenalan dengan sebuah produk adalah siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya dan cerita apa yang dibawa motifnya. Pertanyaan itu menghubungkan barang yang dipakai dengan orang dan pengetahuan di belakangnya. Pembahasan di Surabaya menunjukkan bahwa regenerasi batik juga menyangkut hubungan tersebut, bukan hanya pergantian tren pakaian.
Sampul merupakan kolase ilustratif yang dibuat dengan AI dari foto Ahaetulla di Trusmi dan gambar alat membatik. Adaptasi sampul juga tersedia dengan CC BY-SA 4.0. Foto di dalam berita adalah berkas sumber asli dan tidak dibuat atau diubah dengan AI.
Sumber
Sumber
- Inovasi Jaga Batik Tetap Relevan bagi Generasi Masa Kini — 4 Oktober 2026 — Kementerian Perindustrian
- Hari Batik Nasional 2026: pentingnya regenerasi perajin — Kementerian Perindustrian
- Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Saat Warisan Budaya Menyapa Generasi Muda — Kompas.com Surabaya