Polutan Jakarta turun pada pagi JRF, DLH belum memastikan besarnya peran OMC
DLH melaporkan penurunan sejumlah polutan pada Sabtu pagi, 24 Oktober. Kondisi meteorologi, emisi lokal dan kemungkinan kontribusi modifikasi cuaca masih perlu dianalisis lebih lanjut.

Konsentrasi sejumlah polutan di Jakarta dilaporkan menurun pada Sabtu pagi, 24 Oktober, bertepatan dengan hari pertama Jakarta Running Festival 2026. Namun, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta belum memastikan seberapa besar perubahan itu dipengaruhi Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta yang diterbitkan 24 Oktober pukul 10.29 WIB, DLH menyebut pemantauan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara menunjukkan kecenderungan penurunan PM2,5, PM10 dan sulfur dioksida di lima wilayah kota administrasi. Periode yang disorot adalah pukul 04.00–07.00 WIB.
Angka yang dilaporkan untuk Sabtu pagi
| Wilayah | Parameter | Periode 24 Oktober | Kisaran yang dilaporkan |
|---|---|---|---|
| Jakarta Selatan | PM2,5 | 04.00–05.00 WIB | 12–32 µg/m³ |
| Pesisir Jakarta Utara | PM2,5 | 04.00–07.00 WIB | 9–17 µg/m³ |
Angka tersebut merupakan kisaran untuk periode pagi yang disebutkan dalam pengumuman. Angka itu tidak boleh dibaca sebagai rata-rata harian seluruh Jakarta atau jaminan kondisi udara yang sama sepanjang hari.
DLH juga melaporkan tren penurunan di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Siaran pers tidak menyajikan deret data lengkap setiap stasiun maupun perbandingan terperinci sebelum dan sesudah operasi.
OMC mungkin berkontribusi, tetapi bukan satu-satunya faktor
Menurut penjelasan DLH, perubahan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi keadaan meteorologi dan aktivitas sumber emisi lokal, selain kemungkinan dampak OMC. Hujan berpotensi membantu mengeluarkan partikulat dari atmosfer melalui deposisi basah.
Kepala DLH Dudi Gardesi menyatakan masih diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara. Dengan demikian, pemantauan penurunan polutan belum sama dengan pembuktian bahwa OMC menjadi penyebab tunggal perubahan tersebut.
Empat sorti dan penyemprotan kabut air
BPBD melaporkan empat sorti penerbangan OMC pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida. Penyemaian berlangsung di Bogor, Depok, Bekasi dan Jakarta Selatan.
Selain operasi di udara, Pemprov melakukan penyemprotan kabut air di sejumlah ruas jalan lintasan JRF. Kegiatan di jalan itu melibatkan jajaran lingkungan hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan.
BPBD dan BMKG disebut terus memantau cuaca untuk mengevaluasi langkah berikutnya hingga hari kedua JRF pada 25 Oktober. Pengumuman ini tidak memuat prakiraan konsentrasi polutan untuk 25 Oktober; kondisi pada Sabtu pagi tidak otomatis menggambarkan kualitas udara saat pelaksanaan berikutnya.
Sumber
- Siaran Pers 7145: pemantauan udara dan OMC — 24 Oktober 2026 — Pemprov DKI Jakarta